Omzet besar itu bukti produk laku — tapi bukan bukti bisnis sehat. Banyak seller mengalami ini: omzet naik dua digit, tapi saldo di akhir bulan malah tipis. Penyebabnya hampir selalu sama: harga jual ditetapkan untuk memenangkan perang omzet, bukan untuk menjaga profit per unit. Artikel ini membahas cara membalik logikanya: mulai dari profit yang kamu mau, lalu turunkan harga jualnya — bukan sebaliknya.

Ilustrasi: dua produk, satu omzet, profit beda jauh

Produk AProduk B
Harga jualRp100.000Rp60.000
COGSRp75.000Rp32.000
Total fee (±15%)Rp15.000Rp9.000
Profit per unitRp10.000 (10%)Rp19.000 (31,7%)
Unit terjual/bulan1.000400
OmzetRp100 jutaRp24 juta
Total profitRp10 jutaRp7,6 juta

Produk A menang omzet — tapi per unit, ia cuma menyumbang Rp10.000 dengan risiko retur dan modal kerja yang jauh lebih besar. Kalau iklan per unit untuk Produk A di atas Rp10.000, dia sebenarnya rugi. Produk B kecil omzetnya tapi tiap rupiah penjualan bekerja lebih keras.

Berapa profit sebenarnya per unit yang kamu jual?Masukkan harga sekarang — Marginly hitung profit & margin setelah semua fee.

Cek Harga Jual Ideal

Balik urutannya: target dulu, harga kemudian

Cara kerja yang sehat:

  1. Tentukan target margin per unit — misalnya 20% setelah semua fee dan pajak.
  2. Hitung COGS yang benar — bukan cuma harga beli (lihat cara menghitung COGS).
  3. Hitung mundur harga jual — pakai rumus: harga = (COGS + biaya flat) ÷ (1 − total fee % − target margin).
  4. Uji ke pasar — kalau harga hasil hitungan terlalu tinggi untuk kompetisi, keputusannya sadar: tekan COGS, turunkan target, atau pilih produk lain. Bukan pura-pura fee tidak ada.

Tanda-tanda harga jualmu "makan omzet, buang profit"

Dari target profit ke harga jual: contoh singkat

COGS Rp32.000 (sudah termasuk packaging dan allowance retur), target margin 30%, jual di TikTok Shop kategori Kecantikan (komisi 9,2% + dinamis 7%), order processing Rp1.250:

Harga = (32.000 + 1.250) ÷ (1 − 0,162 − 0,30) = 33.250 ÷ 0,538 ≈ Rp61.800

Cek balik: fee ±Rp10.000, profit ≈ Rp18.550 ≈ 30% dari harga jual. Itulah harga jual yang profit — diturunkan dari target, bukan ditebak lalu diharap-harapkan. Pastikan juga istilah yang kamu pakai konsisten: margin vs markup itu beda, dan salah istilah berarti salah harga.

Tiga angka per SKU yang wajib kamu pantau

Supaya fokus ke profit bukan cuma jadi niat, ini tiga angka yang harus kamu tahu per SKU — bukan cuma rata-rata toko:

Contoh satu toko dengan tiga SKU:

SKUHarga jualProfit/unitMarginIklan/unitProfit bersih
A (best-seller)Rp100.000Rp10.00010%Rp6.000Rp4.000
B (menengah)Rp62.000Rp13.00021%Rp2.000Rp11.000
C (premium)Rp185.000Rp32.00017%Rp9.000Rp23.000

Tanpa pemecahan ini, SKU A terlihat sebagai jagoan karena omzetnya paling besar. Dengan pemecahan, kamu tahu setiap unit A cuma menyumbang Rp4.000 setelah iklan — sementara B, yang omzetnya setengahnya, menyumbang hampir tiga kali lipat.

Uji cepat: apakah iklanmu menguntungkan?

Satu rumus praktis untuk seller yang beriklan: ROAS break-even = harga jual ÷ profit per unit sebelum iklan. Contoh SKU A di atas: 100.000 ÷ 10.000 = 10. Artinya, setiap Rp10.000 belanja iklan harus menghasilkan minimal Rp100.000 penjualan — di bawah itu, iklan sedang memakan profitmu, bukan menumbuhkannya.

SKU B butuh ROAS minimal 4,8 dan SKU C 5,8 — produk bermargin tebal jauh lebih "aman" untuk dipertemukan dengan iklan. Kalau kamu membeli traffic (iklan, affiliate, KOL) tanpa tahu angka ini, kamu sedang menebak — dan tebakan di toko dengan omzet besar biasanya mahal. Karena itu urutan yang benar adalah: hitung dulu harga jual yang profit (lihat rumus harga jual ideal), baru tentukan berapa sisa margin yang boleh dibelanjakan untuk pertumbuhan.

Kapan mengejar omzet justru keputusan yang benar?

Supaya seimbang: fokus omzet tidak selalu salah. Ada masa-masa di mana volume lebih penting daripada margin per unit:

Syaratnya satu: keputusan mengejar omzet harus dibuat dengan angka yang jujur dan batas waktu yang jelas — "produk ini boleh margin 8% selama 2 bulan untuk kumpulkan 200 review" itu strategi; "ya sudahlah yang penting laku" itu lubang bocor.

Kalau harga hasil hitunganmu terasa terlalu tinggi dibanding kompetitor, itu bukan alasan mengabaikan fee — itu tanda untuk menekan COGS (lihat cara menghitung COGS), mengubah komposisi, atau menaikkan nilai lewat bundling.

FAQ Singkat

Kenapa omzet naik tapi profit tidak?

Biasanya karena yang dilaku adalah produk margin tipis, biaya iklan/program naik bareng omzet, atau fee marketplace memotong lebih besar dari perkiraan. Omzet mengukur volume, bukan kesehatan bisnis.

Berapa target margin yang sehat untuk seller marketplace?

Umumnya 15–30% setelah fee untuk produk fisik. Yang lebih penting: hitung margin setelah semua fee dan pajak, bukan sebelum.

Bagaimana mulai menetapkan harga dari target profit?

Tentukan target margin per unit, lalu hitung mundur: harga = (COGS + biaya flat) ÷ (1 − total fee % − margin). Bukan menebak harga lalu menghitung margin belakangan.

Artikel Terkait

Lihat semua artikel →

Saatnya hitung, bukan nebak

Masukkan COGS dan target margin — fee Shopee/TikTok dan PPh 22 dihitung otomatis.

Hitung Harga Jual Ideal